Belakangan ini , di Indonesia banyak muncul pribadi yang disebut dengan motivator, Sebutuan ini ada yang diakui, dan ada yang tidak. Bebarapa bulan ini saya banyak berfikir tentang motivator. Hal Motivator ini akhirnya saya tulis setelah ada pembicaraan disuatu forum diskusi. Konon, pada rapat nasional tahun ini, APTIKOM ingin mengundang seorang motivator terkenal di Indonesia untuk berbicara beberapa jam pada rapta nasional itu. Setelah melalui beberapa pembicaraan, APTIKOM batal memakai motivator. Seorang sumber yang dapat dipercaya mengatakan bahwa sang motivator mensyaratkan bayaran lebih dari 60 juta rupiah hanya untuk bicara beberapa jam.
Kejadian tersebut sangat kontras dengan kejadian yang baru-baru ini saya alami. Saya diharapkan untuk menjadi narasumber seminar dan mengajar banyak orang di sebuah workshop, semua biaya transportasi pesawat dan taksi saya bayar sendiri ! Saya menolak, dan mengatakan bahwa permintaan tersebut keterlaluan dan tidak etis. Pemintanya mengatakan bahwa dia tidak berani meminta dana ke yayasan. Sentimen yang dipakai kepada saya adalah bahwa untuk mencerdaskan bangsa. Ah, saya sama sekali tidak tidak tertarik dengan rayuan gombal semacam ini, yang sebenarnya adalah perilaku bisnis yang tidak etis.
Saya tidak mengidolakan seroang pun dari motivator-motivator, baik dari Indonesia atau mancanegara. Saya sulit mengidolakan orang-orang yang tidak membuat produk. Bila orang yang tidak membuat produk tersebut menjadi motivator, saya semakin tidak respek. Konsultan IT biasa dengan apa yang dimaksud dengan Proof of Concep. Saya akan menyebut kegiatan terkait sebagai Prooving the Concepts. Dalam membandingkan kegiatan yang dilakukan konsultan IT dengan motivator, saya tidak melihat banyak bukti dari konsep-konsep yang didengung-dengunkan motivator. Orang-orang yang sering datang ke acara-acara yang dibawakan motivator seringkali adalah orang-orang yang sudah mapan. Seberapa berhasil sang motivator mempu mengubah orang-orang tersebut menjadi orang-orang yang lebih baik?
Meningkatnya banyak bisnis motivator (yang berarti meningkatnya konsumen mereka) tidak sejalan dengan makin banyaknya pejabat swasta dan pemerintah melakukan hal-hal yang merugikan masyarakat luas. Padahal, pejabat swasta level menengah ataslah yang ering menjadi audiens langsung dari para motivator. Ladang proof of Concept yang paling tepat untuk motivator adalah anak-anak jalanan, masyarakat didaerah kumuh, masyarakat di daerah tertinggal, dan masyarakat di daerah konflik. Kalau motivator bisa mengubah masyarakat di daerah-daerah tersebut menjadi lebih baik, barulah kita layak mengangkat topi tinggi-tinggi bagi mereka, dan membayarnya dengan harga tinggi.
Terkait dengan IT, proof of Concept yang tepat untuk motivator adalah bukti bahwa adanya orang-orang IT yang berhasil mereka motivasi sehingga dapat menjadi kontibutor utama di perubahan source code linux yang berganti dengan cepat, menjadi donatur utama dari FSF, menjadi orang yang sanggup membuat perusahaan hardware atau software terkemuka di luar negeri. Kita bahkan lebih spesifik.
Bila audiens dari motivator adalah mahasiswa software, dengan demikian Proof of Concept-nya adalah mahasiswa-mahasiswa tidak mau lagi menyontek (meskipun kesempatan ada), yang mau berlelah untuk mengekplorasi source code Linux yang jumlahnya sebanyak ribuan baris, yang bersedia membeli dan membaca buku teks dengan teliti, yang tidak mau kalah dibanding otodidak dan alumni elektro.
Bila audiens yang dituju oleh motivator adalah dosen softeware maka proof of concept nya yang harus dilakukan adalah dosen-dosen yang bersedia untuk magang dan membuat program tanpa bantuan mahasiswa. Bila Audiensnya adalah pebisnis pendidikan software, maka Proof of Concept nya adalah para pebisnis yang mau melihat masalah pendidikan software dari berbagai segi, yang mau terus-menerus belajar agar dapat membenahi pendidikan tersebut.
Ditulis oleh Bernaridho I. Hutabarat, pakar bussiness Intelegence.
Tulisan dimuat pada Majalah PC Media Edisi 02/2011.